Rabu, 09 Oktober 2019

BIAYA

Biaya Pendidikan Usaha Perjalanan Wisata & Akomodasi Perhotelan :





Biaya Pendidikan Multimedia:



Biaya Pendidikan Teknik Komputer & Jaringan :



Contact

 (021) 4682 9045    smk.dharmitum@gmail.com

Selasa, 23 Mei 2017

SEJARAH PERKEMBANGAN ROTI

Sejarah Singkat Roti

Roti adalah salah satu makanan tertua di dunia. Sejarah roti yang panjang konon berawal dari Mesir dan Mesopotamia. Saat mereka menemukan cara lain untuk menikmati gandum. Gandum yang awalnya dikonsumsi langsung ternyata dapat dilumat bersama air sehingga membentuk pasta. Pasta yang dimasak diatas api kemudian mengeras dan dapat disimpan beberapa hari. Teknik paling dasar memasak roti seperti ini masih digunakan dibeberapa negara walau perkembangan teknik dan jenis roti modern semakin beragam. Sebut saja tortila Mexico, roti canai India, Pita di Timur Tengah, dan lain-lain. Roti-roti semacam ini dikenal lebih dengan nama istilah roti datar.

Sementara ragi roti ditemukan saat mereka menyimpan sedikit adonan dari hari sebelumnya dan ditambahkan pada adonan yang baru. Kemudian dikembangkan pula jenis gandum yang baru yang memungkinkan terciptanya jenis roti yang baru. Dari Mesir inilah bangsa Yunani mengambil teknologi pembuatan roti. Teknologi yang kemudian menyebar di seluruh Eropa dan menjadikan roti sebagai makanan yang dianggap penting oleh masyarakatnya. Di Roma bahkan roti dan gandum lebih penting ketimbang daging.

Saat itu warna roti membedakan ‘kelas’ dalam masyarakat. Semakin gelap warna roti yang dikonsumsi semakin rendah satus sosialnya. Hal ini dikarenakan tepung putih yang mahal. Tetapi jaman sekarang roti berwarna gelap justru lebih mahal karena rasanya yang lebih enak dan kandungan gizinya yang lebih tinggi. Saat ini roti sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya berbetuk datar, kita bisa menikmati roti beraneka bentuk, rasa, dan ukuran.

Beribu tahun yang lalu, manusia hidup mengembara, sambil berburu dan mencari yang bisa dimakan. Tadinya bulir gandum mereka kunyah begitu saja. Uh, keras! Jadi, mereka tumbuk dan beri air sepaya lembek, Adonan yang tersisa mereka jemur sampai kering untuk bekal perjalanan. Lalu mereka tahu, makanan menjadi lebih enak kalau dibakar. Jadi, adonan gandum mereka pipihkan di permukaan batu yang dipanaskan dengan api. Sekitar 4.600 tahun yang lalu, di Mesir ada orang lupa mengeringkan adonan tepung. Adonan itu meragi. Setelah dibakar, rasanya lebih empuk dan lebih enak, Sejak itu, mereka sengaja meragikan dulu adonan tepung supaya mengembang.

Roti masa itu belum seempuk dan seenak sekarang. Membuatnya pun menjijikkan. Tepung, air, dan adonan ragi dicampur lalu diinjak-injak oleh para budak. Namun roti tidak lagi dibakar di api terbuka, tetapi di dalam tungku primitif berbentuk kerucut. Masa itu para pekerja Mesir bukan diupah dengan uang, tetapi dengan roti. Sampai sekarang, dalam bahasa Inggris pencari nafkah disebut breadwinner, orang yang berjuang untuk mendapat roti. Kata ’roti’ sering dipakai untuk menggantikan kata ’rezeki’. Sampai sekarang, roti tradisional di Timur Tengah, India, dan Afrika masih pipih. Roti kemudian menjadi makanan pokok di pelbagai bagian dunia.

Pembuatan roti terus berkembang. Kita mengenal berbagai macam, bentuk, dan rasa roti. Di Indonesia kita biasa makan roti tawar yang empuk, putih, berbentuk kotak, dan kulitnya tipis. Orang Francis menyukai roti panjang dan langsing seperti tabung, kulitnya tebal, dalamnya empuk. Orang Jerman dan Rusia menyukai roti dari gandum rye.

Jenis - Jenis Roti
1.    Bagel.
Adalah roti khas dari Eropa Timur (Polandia), bentuknya bulat seperti donat, tapi bagian dalam lebih padat. Bagel di sajikan pada saat makan pagi, dibelah, dibakar dan diolesi keju krim. Pada adonan bagel biasanya ditambahkan kismis, blueberry, bawang, biji-bijan atau bumbu daun.

2.    Bialy.
Roti juga berasal dari Eropa Timur (khususnya Polandia)  berbeda dengan bagel, bentuknya bulat namun memiliki lubang / kawah di bagian atasnya biasanya diisi dengan irisan bawang bombay.

3.    Bolillo / Pan blanco
Adalah roti yang berasal dari daerah Meksiko memiliki kulit yang keras dan biasanya dibelah untuk dipergunakan sebagai dasar dari sandwich.

4.    Breadsticks / Grissini / Italian breadsticks.

Roti renyah ini banyak di sajikan di restoran Italia sebagai snack pembuka, sehingga tamu yang datang menunggu makanan tidak bosan tapi juga tidak kekenyangan. Roti ini selain di sajikan polos, juga diberi aneka rasa seperti wijen, bawang, atau rempah dedaunan.

5.    Brioche.
Adalah roti dengan tekstur empuk dan rasa yang kaya serta sedikit manis. Dibuat dari telur, mentega, ragi, tepung, dan terkadang ditambahkan juga buah kering atau kacang-kacangan.

6.    Challah.
Adalah roti ragi yang juga berasal dari daratan Eropa Timur . Dibuat dengan menggunakan telur dan mentega, memiliki tekstur yang sangat empuk dan memiliki bentuknya dikepang.

7.    Ciabatta.
Adalah roti bertekstur kasar berasal dari Itali dengan ciri kulit yang tebal dan bagian dalamnya padat.

8.    Corn rye bread.
Adalah roti yang berasal dari daratan Eropa. Roti ini sering dipergunakan sebagai makanan pokok dilapisi tepung jagung dan lebih sering di sajikan bersama daging kornet.

9.    Croissant.
Adalah roti yang berasal dari Prancis, dibuat dari adonan puff pastry, sehingga renyah dan juga sangat empuk. Roti ini biasanyanya di sajikan saat sarapan dengan kopi , teh atau sandwich.

10.   Crumpet.
Adalah sejenis roti muffin namun teksturnya lebih lembab yang berasal dari Inggris, sering disajikan dengan diolesi krim padat atau mentega dan dimakan pada saat minum teh sore. Sebelum dihidangkan, roti ini biasa di panggang atau di bakar terlebih dahulu.

11.   English muffin.
Biasanya roti ini dibelah terlebih dahulu, kemudian dipanggang, dan setelah itu, roti ini diolesi mentega dan selai sesuai selera. Seringkali disajikan pada saat sarapan sebagai alternatif roti bakar.

12.   Roti Prancis / Baguette
Roti ini adalah roti tradisional Prancis ini memiliki kulit yang keras, berwarna coklat dan bagian dalamnya banyak terdapat lubang-lubang. Baguette adalah roti standar Prancis, dengan panjang sekitar setengah meter biasanya disajikan dengan sup atau dipanggang lalu diberi aneka macam topping sesuai selera.

13.   Roti Italia.
Bentuknya mirip sekali dengan roti Prancis, hanya bagian dalam dari roti ini jauh lebih padat

14.   Roti Limpa
Roti ini berasal dari Swedia, memiliki rasa yang enak dan wangi ini biasanya diberi rasa dengan gula cair, biji bunga lawang dan kulit jeruk.

15.   Roti manis Portugis /  Pau Duce /  Roti Hawaii.
Roti ini memiliki rasa yang manis dengan tekstur yang empuk sangat enak untuk disajikan sebagai roti bakar/ French toast.

16.   Roti Pugliese.
Roti sederhana ini memiliki tekstur kulit yang keras biasa ditemukan di kota Puglia, Italia, dan merupakan roti yang sempurna sebagai bahan sandwich atau untuk dimakan dengan minyak zaitun.

17.   Roti pumpernickel.
Roti  dengan tekstur padat dan rasa sedikit masam ini dibuat dengan gula cair dan campuran antara tepung rye dan gandum. Sering kali dipotong tipis dan disajikan sebagai makanan pembuka.

18.   Roti rye.
Merupakan roti favorit penduduk Eropa Utara,biasanya digunakan dengan baik sebagai bahan sandwich. Roti ini dibuat dengan campuran tepung rye dan tepung gandum. Roti ini dapat ditemui dalam berbagai variasi, mulai dengan yang berwarna kecokelatan sampai ke hampir hitam.

19.   Roti Sourdough.
Dari namanya, dapat ditebak bahwa rasanya akan sedikit masam. Roti khas San Fransisco di Amerika ini dibuat dengan ragi khusus yang akan memberikan rasa asam yang nikmat. Roti ini sangat pas dinikmati dengan hidangan laut.

20.   Roti Starter / Pain Au Levain .
Adalah roti yang dibuat dengan ragi "starter", campuran tepung, air dan ragi yang sengaja didiamkan di udara terbuka, sehingga selalu ditemui dengan rasa masam yang menyenangkan.

RESUME MODEL PEMBELAJARAN

Resume DICK & CARRY
Model pembelajaran Dick and Carry merupakan model pembelajaran yang dikembangkan melalui pendekatan sistem (System Approach). Terhadap komponen-komponen dasar dari desain sistem pembelajaran yang meliputi analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Model sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Dick and CARRY terdiri atas beberapa komponen yang perlu dilakukan untuk membuat rancangan aktifitas pembelajaran yang lebih besar.  Dick and Carry memasukan unsur kognitif dan behavioristik yang menekankan  pada respon siswa terhadap stimulus yang di hadirkan.
Implementasi model desain sistem pembelajaran ini memerlukan proses yang sistematis yang menyeluruh. Hal ini dipelukan untuk dapat menciptakan desain sistem pembelajaran yang mampu digunakan secara optimal dalam mengatasi masalah-masalah pembelajaran. Komponen-komponen sekaligus langkah-langkah utama dari model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick dkk yang terdiri atas:
1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran 6. Mengembangkan strategi pembelajaran
2. Melakukan analisis instruksional 7. Pengguanaan Bahan Ajar
3. Analisis Siswa dan Konteks            8. Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif
4. Merumuskan  tujuan pembelajaran 9. Melakukan revisi terhadap program pembelajaran
5. Mengembangkan instrument penelitian     10. Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif
Langkah desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick dan Carrey merupakan sebuah prosedur yang menggunakan pendekatan sistem dalam mendesain sebuah program pembelajaran. Setiap langkah dalam desain pembelajaran memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya.
a.      Kelebihan Model Dick dan Carry
  1. Setiap langkah jelas, sehingga dapat diikuti.
  2. Teratur, efektif dan Efisien dalam pelaksanaan.
  3. Merupakan model atau perencanaan pembelajaran yang terperinci, sehingga mudah diikuti
b.      Kekurangan Model Dick dan Carry
  1. Kaku, karena setiap langkah telah di tentukan.
  2. Tidak semua prosedur pelaksanaan KBM dapat di kembangkan sesuai dengan langkah
     langkah  tersebut
3.   Tidak cocok diterapkan dalam pembelajaran skala besar


Resume PPSI
PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) ialah suatu bentuk pengajaran yang diatur menurut suatu sistem  sebagai suatu kesatuan yang terorganisir, yang terdiri dari sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Model PPSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan yang jelas sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI menggunakan pendekatan yang berorientasi pada tujuan. Istilah sistem instruksional dari PPSI menunjuk kepada pengertian sebagai suatu sistem yaitu sebagai suatu kesatuan yang terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
Langkah-langkah pokok dari pengembangan model PPSI yaitu:
Langkah 1: merumuskan tujuan pembelajaran.
Langkah 2: menyusun alat evaluasi.
Langkah 3: menentukan kegiatan belajar mengajar.
Langkah 4: merencanakan program Kegiatan Belajar Mengajar
Langkah 5: pelaksanaan program


  1. Kelebihan model PPSI yaitu :
1. Uraiannya tampak lebih lengkap dan sistematis.
2. Dalam pengembangannya melibatkan penilaian ahli, sehingga sebelum dilakukan uji coba di
      lapangan, perangkat pembelajaran telah dilakukan revisi berdasarkan penilaian, saran dan
      masukan para ahli.
b. Kekurangan model PPSI yaitu :
1. Bagi pendidik memerlukan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih karena guru harus
       memberikan pre test dan post test untuk setiap unit pelajaran.


Resume PBTE
Pengembangan program intruksional dilakanakan dengan pendekatan sistematik. Pendekatan ini mempertimbangkan semua faktor dan komponen yang ada sehingga pelaksanaan program akan berjalan secara efisiensi dan efektif. Berdasarkan pola pendekatan tersebut maka sistem instruksional dikembangkan melalui prosedur sebagai berikut:
1. Merumuskan asumsi-asumsi secara jelas, ekspilisit dan khusus, berdasarkan pada
   pokok-pokok pikiran yang bertalian dengan beberapa hal, yaitu:
a. Keyakinan tentang masyarakat, pendidikan dan belajar.
b. Pandangan tentang peranan guru dalam sistem intruksional.
c. Penjabaran ciri-ciri khusus dan berbagi hambatan yang mungkin terjadi dalam
   Pelaksanaan program.
2. Mengidentifikasi kompetensi, terdapat enam jenis pendekatan yang dapat digunakan untuk
   merumuskan kompetensi, yaitu sebgai berikut:
a. Menerjemahkan pelajaran yang telah menjadi sejumlah kompetensi yang tujuan
   tingkah lakunya harus diteliti kembali.
b. Pendekakatan analisis tugas yang harus dikerjakan, lalu ditentukan peran-peran apa
   Yang diperlukan, lalu ditentukan jenis-jenis kompetensi yang dituntut tersebut.
c. Pendekatan kebutuhan siswa di sekolah berdasarkan ambisi, nilai dan prespektif para
   Siswa.
d. Pendekatan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan kebutuhan masyarakat yang nyata
   Disusun program sekolah dan program latihan yang perlu dilakukan.
e. Pendekatan teoritis yang disususn secara logis dan melalui pemikiran deduktif dalam
   Kerangka ilmu tentang tingkah laku manusia.
f. Pendekatan cluster yang disusun berdasarkan program umum yang biasa berlangsung.
3. Merumuskan tujuan-tujuan secara deskriptif.
    Kompetensi yang telah ditentukan kemudian dirumuskan lebih khusus, lebih eksplisit menjadi
tujuan-tujuan yang dapat diamati, dapat diukur berdasarkan kreteria tertentu.
4. Menentukan tingkat-tingkat kriteria dan jenis assement.
Dengan kriteria ini dapat ditentukan tingakat keberhasilan tentang sejauh mana suatu tujuan telah
dicapai.
5. Pengelompokan dan penyusunan tujuan-tujuan pelajaran berdasarkan urutan pikologis untuk mencapai
   maksud instruksional.
6. Mendesai strategi intruksional.
Beberapa strategi dapat pula dirancang oleh guru, contohnya dengan ceramah.
7. Mengorganiasikan sistem pengelolaan kelas.
Sistem pengelolaan yang ditentukan disesuaikan dengan berbagai alternatif kegiatan yang akan
dilakukan, seperti pengajaran individual, core pengajaran unit.
8. Mercobakan program.
Tujuannya adalah untuk mengetes efektifitas strategi intruksional, kemantapan alat assement,
efektivitas sistem pengelolaan kelas.
9. Menilai desain intruksional.


Resume DAVIS
Desain Pembelajaran Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kolaborasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Berkolaborasi model, secara aktif berupaya menjadi contoh dalam melakukan kegiatan belajar efektif, seperti mencontohkan penggunaan strategi belajar atau cara mengungkapkan pemikiran secara verbal (think aloud) yang dapat membantu proses konstruksi pengetahuan; pelatih (coach), memberikan petunjuk, umpan balik, dan pengarahan terhadap upaya belajar pembelajaran. Pembelajaran tetap mencoba memecahkan masalahnya sebelum memperoleh masukan pengajar.
Peranan dan Pentingnya Tim dalam Pembelajaran Kolaborasii McCah. Davisdan Miller (1996), pembagian tugas semacam itu sesungguhnya mengandung kelemahan serius karena pebelajar tidak terlatih menguasai dan menyelesaikan pekerjaan dalam lingkup yang lebih luas yang sebenarnya dituntut secara kompetitif manakala nanti sudah memasuki dunia kerja. Akibatnya, pebelajar menyimpan kelemahan dan keterbatasan kesempatan untuk memperoleh atau meningkatkan kompetensi lainnya yang juga penting. Atas dasar itu, Davis dan Miller (1996) menyarankan bahwa untuk mencapai hasil perencanaan yang sistematik, rapi, dan jelas, termasuk tujuan pembelajarannya.
Tujuan pembelajaran muncul dari desain dan pengembangan kinerja. Tujuan pengembangan bukan pijakan dalam melakukan proses pengembangan. Selama proses pengembangan secara kolaboratif, tujuan muncul dan terkesan “kasar” atau kurang jelas , kemudian menjadi lebih jelas. Dalam pengembangan pembelajaran dengan pijakan behavioristik, rumusan tujuan pembelajaran yang opeasional sangat penting dan menjadi acuan pembelajaran di Perguruan Tinggi (PT) selama ini dinilai belum optimal. Penyebab belum optimalnya kegiatan pembelajaran itu karena 3 hal, yakni:
1. Pembelajaran kurang mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan
   perkembangan di bidang teknologi pembelajaran,
2. Pembelajaran keliru dalam memandang proses pembelajaran, dan
3. Pembelajar menggunakan konsep-konsep pembelajaran yang tidak relevan dengan perkembangan

   teknologi pembelajaran. Selain itu belum optimal tersebut.